”Yayasan AL Haromain telah berusia tujuh belas tahun,” demikian keterangan yang diberikan oleh pengurus persyadha dalam kegiatan multaqo 11-12 Agutus 2007 di Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain Pujon Malang. Yayasan AL Haromain yang saat ini mengenalkan diri dengan Persyarikatan Dakwah Al Haromain (Persyadha) merupakan lembaga dakwah yang memadukan potensi santri, mahasiswa dan rakyat. Jalan mensinergikan tiga potensi dakwah diupayakan untuk membangun keterpurukan negeri merah putih tercinta agar bertadrisi kehidupan bersyariah. Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan tashqiful ummah. Mutiara emas yang ada di tiga komponen oleh sang murobbi ikatkan agar memilki kesamaan visi hidup, misi, langkah, tujuan, target, sasaran dan alat kontrol dalam menjalankan pembinaan umat ini.
17 Tahun yang lampau langkah dakwah sang murobbi digerakkan melalui majlis ta’lim Nurul Haromain. Mengapa harus mengambil nama Nurul haromain?
Sang murobbi bermaksud mengambil pancaran nur cahaya dua kota suci yaitu Mekah dan Madinah. Upaya ini paling tidak adalah mengembalikan konsep dakwah pada konsep dakwah yang telah terbukti keberhasilannya di dua kota suci tersebut. Dan dari sanalah keberkahan dakwah dapat diambil. Hal ini pasti mengandung upaya pemurnian langkah dakwah. Peneladanan prilaku Rasulullah sholollah alaihi wassalam dengan ihya’ sunnah. Majlis Ta’lim Nurul Haromain berkembang sangat pesat hingga kemudian dikumpulkan dalam wadah dakwah brsama semua pontesi yang telah mengikatkan diri. Dari sinilah Yayasan Al Haromain terbentuk.Kesederhanaan prilaku sang murobbi mampu menjadi magnit dakwah sehingga perkembangan Yayasan Al Haromain sangat pesat. Sang murobbi mendesain wadah ini hanya untuk melaksanakan kehidupan bersyariat Islam. Maksudnya adalah semua unsur dan elemen kehidupan ini dilandasi dan dilaksanakan dengan berpedoman pada syariat Islam. Sehingga hukum-hukum Islam dapat dimengerti, dipahami, diamalkan dan diterapkan sesuai tujuan diturunkan hukum syariat. Semuanya dikendalikan dengan hukum Islam. Secara individu maupun masyarkat dalam kehidupannya harus terikat untuk mewujudkan tradisi kehidupan bersyariat. Bagaimana cara memulainya?Konsep yang ditawarkan oleh sang murobbi adalah konsep pembibitan. Sang murobbi selalu memberi wejangan bahwa dakwah merupakan proses pembibitan. Jika sudah ada bibit jika sewaktu-waktu hujan turun maka akan terjadilah pembenihan secara baik dan cepat. Sang Murobbi berkonsentrasi pengambilan bibit unggul dari kalangan aktivis kampus, santri pesantren potensial yang siap dijadikan da’i dan rakyat yang memiliki ghiroh dakwah. Sang murobbi metitikberatkan peran dakwah yang diembannya harus dikembangkan dan dimulai dengan pembina. Pembinaan berarti mendampingi agar rakyat dapat menyelamatkan diri dari segala bencaba. Pembina berarti merawat bibit, menproses bibit agar dapat menurunkan bibit bibit lagi yang secara unggul dan berkelanjutan. Pembinaan juga dapat bermakna membangun benteng kekuatan dakwah untuk mengantisipasi tipu daya syaithon serta musuh-musuh Islam. Membangun benteng kekuatan dakwah membutuhkan kekuatan ruh bukan sekedar kekuatan fisik. Karena kekuatan ruh akan mampu memberi energi kehidupan setiap waktu. Sang murobbi dalam mewujudkan kekuatan ruh dilaksanakan dengan jalan melanggengkan wirid-wirid yaumiah serta aktivitas taqqrub ilallah seperti qiyamulail dan lainnya. Semua amalan pembentukkan kekuatan ruh dikontrol secara ketat. Murobbi berhak dan berkewajiban menegur serta memberi sanksi bagi yang teledor. Langkah ini harus dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan dan pelemahan karena sifat teledor. Saatnya kekuatan ruhiah akan mampu menjadi benteng menghadapi tantangan luar yang terorganisir. Kekuatan ruh baru dapat bermanfaat bila ditunjang dengan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan bersama secara kebersamaan. Semua potensi harus melibatkan diri tanpa kenal pamrih. Kekuatan ruhiah yang dibangaun akan mampu memberi manfaat dalam membela hak-hak rakyat yang teraniaya dan atu terdlolimi. Membangun potensi dakwah ini merupakan jalan pengabdian hidup. Dakwah yang digariskan oleh sang murobbi merupakan pengamalan perintah al Qur’an dalam surat Ali Imron 104: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan ummat yang mengajak (berdakwah) kepada ma’ruf dan mencegah kepada munkar. “
Dapat dimengerti merupakan upaya sungguh-sungguh dalam mengumpulkan potensi untuk disulut menjadi energi kehidupan. Di dalamnya akan terjadi proses berkesinambungan. Membangun kesinambungan dibutuhkan kebersamaan. Kebersamaan inilah yang disebut jamaah. Multaqo yang diikuti oleh 500 jamaah bersepakat membangun kebersamaan. Menghidupkan kembali kehidupan bersyariah, demikian motto yang dibangun.
Sabtu, 17 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar